Primbon, Mistik, Klenik, Paranomal, Metafisika
 
Minggu Legi, 23 November 2014 (30 Muharam 1436H)   









[ KEILMUAN ]

membuka aura rejeki dan kewibawaan

agar tidak kekurangan rejeki

mengaktifkan pendulum batin

doa memohon kesuksesan tempat yang baru

ilmu pengasihan ampuh penakluk siapapun

menghancurkan virus penyakit di tubuh

memilih jodoh yang tepat

agar bisnis yang terpuruk bangkit kembali




[ ARTIKEL ]

 ilmuwan temukan alat untuk merekam mimpi

 kita mungkin tidak berada di dimensi alam yang sama

 inilah virus yang mampu mengubah pikiran manusia

 beberapa faedah ayat kursi

 meramal karakter berdasarkan golongan darah



[ TEROPONG ]
Tafsir Mimpi
Kedutan
[ MENU ]
JOIN NOW
LOGIN
Konsultasi Spiritual


Home > Artikel > Detail
Bookmark SEJARAH PUSAKA KANJENG KYAI PLERED at Your Social Bookmarking Website    add favorites to your browser   Kamus Mistik, Klenik, Metafisik
Pelatihan Aktivasi Kerejekian

Sejarah Pusaka Kanjeng Kyai Plered

by : Indospiritual
Kategori : Umum
 
Kala itu, kejayaan Majapahit pun mulai berangsur redup. Nun ... di Katumenggungan Wilwatikta yang tenang dan damai, di pagi nan cerah itu, sang Tumenggung yang dikaruniai sepasang anak yang mulai beranjak dewasa, yakni Raden Sahid dan Dewi Rasa Wulan memanggil keduanya untuk menghadap.

Setelah keduanya  menghaturkan sembah bakti, sang Tumenggung pun berkata; "Sahid, sekarang engkau sudah dewasa. Mulai sekarang, engkau harus bersiap-siap untuk menggantikan bila aku sudah tak mampu lagi melaksanakannya."

"Sebelumnya, aku dan ibumu berharap agar engkau segera menikah. Katakanlah, gadis mana yang selama ini telah menjadi tambatan hatimu. Nanti aku yang akan melamarkan untukmu," imbuhnya.

Raden Sahid yang duduk bersila dengan takzim dan kepala menunduk sebagai tanda hormat kepada orang tua, hanya diam membisu. Hatinya benar-benar galau. Betapa tidak, sejatinya, di dalam hati ia menolak untuk segera menikah.  Tapi apa daya, jika menolak, ia takut membuat kedua orang tuanya kecewa.

Padahal dalam hati yang sangat dalam, beliau menggerutu, belum siap memikirkan tentang arti sebuah mahligai rumah tangga. Di tengah-tengah suasana yang mencekam itu, mendadak terdengar suara Tumenggung Wilwatikta memecah kesunyian; "Mengapa engkau diam Sahid?"

"Apakah engkau menolak permintaanku?" Sambungnya cepat.

"Ampun ... ayahanda," sahtu Raden Sahid dengan terbata-bata, "tak ada maksud hamba untuk menolaknya."

"Tetapi mengapa engkau diam dan tidak segera menjawab," potong sang ayah dengan cepat.

"Ampun ... ayahanda," jawab Raden sahid dengan santun, "sampai saat ini, hamba masih menimbang-nimbang, wanita mana yang tepat untuk menjadi menantu ayahanda."

Tumenggung Wilwatikta pun menarik napas lega, "Baiklah kalau begitu. Pertimbangkan dengan masak-masak, dan hati-hati dalam menentukan jodohmu."

Karena dianggap cukup, maka, Raden Sahid pun diperkenankan untuk undur diri. Dan kepada Dewi Rasa Wulan, sang ayah hanya berpesan agar dirinya bersiap-siap untuk menerima pinangan dari pemuda  yang sudah ditetapkan kedua orang tuanya.

Tanpa berani membantah, Rasa Wulan pun hanya diam ... lalu, ia pun undur diri dari hadapan ayahandanya.

Tidak seperti biasanya, keceriaan yang biasa diperlihatkan keduanya di kadipaten mendadak hilang. Hingga malam menjelang, Raden Sahid masih disungkupi kegelisahan. Bahkan, matanya pun tak bisa dipejamkan walau malam terus merangkak. Hatinya teramat sedih ...

"Untuk menghindar dari paksaan ayah, kiranya aku harus pergi dari sini," demikian bisik hatinya. Dan benar, seiring dengan malam yang terus merangkak dan seisi katumenggungan sedang terbuai dalam mimpi indahnya masing-masing, diam-diam Raden Sahid pun ke luar dari kamarnya dan pergi ....

Paginya, tatkala Dewi Rasa Wulan mengetahui bahwa kakaknya tak ada di kamarnya, sontak, hatinya pun khawatir. Dengan harap-harap cemas ia pun mencari sang kakak di berbagai penjuru katumenggungan. Tapi apa daya, sang kakak seolah lenyap bak ditelan bumi. Dewi Rasa Wulan pun yakin, sang kakak telah pergi meninggalkan katumenggungan tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya.

"Mengapa Kangmas Sahid tidak mengajakku," bisik hati Rasa Wulan, "padahal aku juga bermaksud pergi agar terhindar dari paksaan ayah." Dengan langkah gontai, Dewi Rasa Wulan pun masuk ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian dan langsung menyusul kakaknya.

Waktu terus berlalu. Malamnya, barulah seisi katumenggungan heboh. Mereka baru sadar jika Raden Sahid dan Rasa Wulan telah pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mendengar laporan bahwa kedua anaknya pergi, Tumenggung Wilatikta pun terkejut. Dengan cepat ia memerintahkan seluruh telik sandi katumenggungan untuk menelisik keberadaan kedua anaknya itu.

Tapi apa daya, keduanya seolah lenyap ditelan bumi. Hari bergangti minggu dan minggu berganti bulan bahkan bulan bergantiu tahun, tapi, keberadaan keduanya tetap saja tidak terendus.

Berbilang waktu, dalam pengembaraannya, Raden Sahid mengalami pahit dan getirnya penderitaan serta menghadapi berbagai macam cobaan hingga di kemudian hari ia dikenal sebagai sosok waliyullah yang sangat masyhur, Khanjeng Sunan Kalijaga — lewat bimbingan seorang Waliyulloh A’dzom Sunan Bonang, yang diteruskan kepada Sunan Gunung Jati, sampai pada akhirnya mendapat derajat kewalian secara sempurna lewat talqin Nabiyulloh Hidir AS, hingga akhirnya beliau diambil mantu dan dijadikan tangan kanan paling setia oleh Sunan Gunung Jati Cirebon.

Tak jauh berbeda dengan sang kakak, di dalam pengembaraannya, setelah berbilang tahun tidak juga berhasil menemukan Raden Sahid, akhirnya, Dewi Rasa Wulan pun bertapa ngidang (bertapa seperti kijang, hidup bersama-sama kawanan kijang dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh kijang, termasuk memakan makanan yang biasa dimakan oleh kijang-Jw) di tengah hutan Glagahwangi (perbatasan Pasundan, Jawa Barat).

Di dalam hutan  nan lebat dan angker itu terdapat sebuah danau bernama Sendhang Beji, yang ditepiannya tumbuh dengan subur sebatang pohon besar yang batangnya menjorok dan menaungi permukaannya. Dan tak ada yang menyangka jika pada salah satu cabangnya yang menjorok ke atas permukaan Sendhang Beji itu terdapat seseorang yang sedang bertapa ngalong (bertapa seperti kalong, bergantungan pada cabang pohon-Jw). Ya ... sosok linuwih itu tak lain adalah Syekh Maulana Mahgribi.

Waktu terus berlalu. Dan pada suatu nan terik, Rasa Wulan pun mendatangi Sendhang Beji. Ia berniat ingin mandi, untuk menyegarkan badannya. Ia sama sekali tak tahu jika di atas permukaan air sendhang itu ada seorang laki-laki yang sedang bertapa — dan tanpa malu-malu Rasa Wulan pun membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya. Dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, dengan perlahan-lahan ia berjalan menghampiri danau dan mandi di Sendhang Beji. Kesejukan air danau membuat tubuhnya jadi terasa sangat nyaman.

Sementara itu, Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas danau memandang kemolekan tubuh Rasa Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan dan kesintalan tubuhnya, sontak, birahi Syekh Maulana Mahgribi pun bangkit hingga meneteskan bibit hidup (sperma-Jw) dan jatuh tepat diatas tempat Rasa Wulan mandi.

Karena peristiwa itu, maka, Rasa Wulan pun hamil. Akhirnya, Rasa Wulan pun tahu jika laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atas danau itulah yang menyebabkan kehamilannya.

"Mengapa engkau tega berbuat demikian?" Protes Rasa Wulan sambil menunjuk sengit ke arah Syekh Maulana Mahgribi. "Mengapa engkau menghamiliki?"

Syekh Maulana Mahgribi hanya diam. Ia seakan tidak mendengar apa-apa.

"Karena telah berbuat, maka, engkau harus bertanggung jawab!" Sergah Rasa Wulan semakin sengit.

"Mengapa engkau menuduhku?" Tanya Syekh Maulana Mahgribi dengan sabar.

"Lihat! Aku hamil," sahut Rasa Wulan.

"Engkau yakin jika aku yang menghamilimu?" Tanya Syekh Maulana Mahgribi meminta ketegasan.

"Ya. Aku yakin!" Sahut Rasa Wulan tegas.

"Karena di tempat ini tidak ada laki-laki lain, maka, engkaulah yang kutuduh menghamiliku," imbuhnya dengan berapi-api.

Untuk menghindarkan diri dari tuduhan itu, Syekh Maulana Mahgribi pun langsung mencabut kemaluannya — kemudian menyingkapkan sarungnya dan menunjukkan kepada Rasa Wulan bahwa ia tidak memiliki kemaluan. Syekh Maulana Mahgribi pun berujar, "Lihat, aku bukan laki-laki. Jadi mana mungkin aku menghamilimu."

"Bagaimana pun juga aku tetap menuduhmu yang menghamiliku" kata Rasa Wulan, "karena itu, engkau harus bertanggung jawab terhadap kehidupan bayi yang tengah kukandung ini."

"Aku yang harus bertanggung jawab?" Tanya Syekh Maulana Mahgribi.

"Ya. Engkau yang harus bertanggung jawab," sahut Rasa Wulan, "mengasuh dan memeliharanya kelak setelah lahir."

Syekh Maulana Mahgribi tidak dapat mengelak. Dan pada waktunya, setelah anak yang dikandung oleh Rasa Wulan itu lahir, maka, si jabang bayi pun yang diberi nama Kidang Telangkas pun diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi. Kelak dikemudian hari, secara turun temurun, keturunan Kidang Telangkas menjadi raja di tanah Jawa.

Kembali ke perdebatan sengit antara Dewi Rasa Wulan dengan Syekh Maulana Maghribi, saat itu, ternyata kemaluannya yang dicabut berubah wujud menjadi sebilah mata tombak —  yang akhirnya menjadi "sipat kandel" (senjata andalan) dari raja-raja Jawa. Dan tombak itu dinamakan Khanjeng Kyai Plered.

Saat ini Khanjeng Kyai Plered itu merupakan salah satu dari senjata pusaka Keraton Yogyakarta.

Namun dalam perdebatan lain, tombak Khanjeng Plered, yang asli telah raib dan dimiliki oleh seorang Waliyulloh Kamil, yang turun temurun selalu dijaga dan dirawat secara baik, sebab hal semacam ini sudah menjadi ilmu Waris bagi ahli generasi sesama Waliyulloh "Di mana hak yang terlahir dari seorang waliyulloh, maka, akan kembali kepada hak sederajat lainnya" Juga seperti maqolahnya Rosululloh SAW: "Sesungguhnya hak warisku akan terpenuhi oleh keturunanku kelak, dan tiada kuberikan pengganti kecuali yang memahamiku, maka sambutlah pemberianku hingga kamu menggantikanku"

"Setiap yang aku miliki (sisa peninggalan hidup) adalah bagian wujud kasar yang tiada berarti dan hakikat sebenarnya adalah kembali ke yang  punya, maka peliharalah apa yang menjadi izin langsungku hingga kau menikmati dengan apa yang sesungguhnya kau pahami"

Sumber : Prabuningrat (Misteri)

 
KOMENTAR ANDA :




ARTIKEL LAINNYA
brain child learning : anak bisa melihat dan membaca dengan mata tertutup

aneh, ada pohon weru menangis

kegagalan afirmasi dan solusinya

apakah tuhan menciptakan kejahatan ?

pengaruh warna terhadap suasana hati dan kesehatan

keajaiban titik nol

inggris kembangkan sistem komunikasi telepati

ramalan juara euro 2012 ala romy rafael

legenda mulka payung

alien mungkin telah di bumi

 
 
VIDEO MISTERI PILIHAN
Pria Disambar Petir 2x Masih Hidup
 


[ SPONSOR ]
[ PRODUK ]

metode astral projection anti gagal

kumpulan audio hipnoterapi

program pembangkitan ilmu tenaga dalam

pagar gaib mobil

tasbih kayu kokka asli

metode alternatif menambah tinggi badan secara alami



[ PENCARIAN ]

Kata yang dicari



di



[ NETWORK ]





[ STATISTIK ]

  Member Aktif : 149



website security

Nomor HP Hoki Audio Pembangkit Energi Metafisika
Metode Alternatif Tambah Tinggi Badan Rajah Penakluk Sukma
Super Hipnotis Modern : Pengaruhi Orang Jarak Jauh Audio Zikir Menetralisir Energi Negatif
Paket Belajar Hipnotis Audio Pembangkit Energi Metafisika
Pendulum Ajaib untuk Deteksi Berbagai Hal Tasbih Nur Karomah
Software Pemusnah Santet Rahasia Dahsyat Kunci Kekayaan Agung
Nomor Handphone Pendongkrak HOKI VCD : Senam Praktis Penyembuh Sgl Penyakit
Pagar Gaib Mobil kalung penyembuh penyakit

Email : [email protected], SMS CENTRE : 0813-8698-9797 (Sabtu/Minggu/Hari Besar Libur)
CopyLeft @ 2014, IndoSpiritual.com