|
WISATAWAN domestik maupun manca negara yang berkunjung ke Keraton Mangkunegaran, Surakarta, pasti memperhatikan perangkat gamelan yang ada di pendapa. Merupakan sipat kandel atau pusaka keraton yang dikenal keramat. Terdiri 5 pangkon yakni Kyai Kanyut Mesem, Kyai Kodhok Ngorek, Kyai Udan Arum, Kyai Udan Manis dan Kyai Mardiswara.
Menurut RM Ngabehi Rono Suripto, empu tari dan karawitan, masing-masing gamelan mempunyai keistimewaan magis. Maka sesajinya pun harus khusus.
Kyai Udan Arum dihias ukiran khas Mangkunegaran. Anggun, berwibawa dan sedap dipandang mata, sehingga terkesan keramat.
Pusaka ini yasan (buatan) Sri Mangkunegoro I (Pangeran Sambernyowo). Maka umur gamelan mencapai ratusan tahun. Hanya dibunyikan setahun sekali ketika mangayubagya Jumenengan Dalem serta menghormat tamu agung. Setiap Selasa atau Jumat Kliwon harus disediakan sesaji dan kembang setaman. Bila lupa memberi sesaji, bisa disusul kejadian misterius dan menakutkan. Seorang abdi dalem, misalnya, karena lalai memberi sesaji, lalu kesurupan dan ngomel tak karuan, membuat geger keluarga dan tetangga. Seorang juru kunci pusaka tersebut, lalu membantu 'menyadarkan' abdi dalem tersebut. Pertama yang dikerjakan adalah meneliti masing-masing gamelan. Terbukti pada perangkat tidak terdapat kembang setaman. Padahal perangkat lainnya, sudah diberi sesaji kembang. Setelah 'kiriman bunga' disusulkan pada rebab, abdi dalem berhenti ngomel.
Rono mengaku, suatu kali pernah bertemu makhluk halus penunggu ruang gamelan Udan Arum. Ketika masuk ruangan dan menyalakan lampu, di depannya berdiri makhluk tinggi besar telanjang dada. Matanya lekat mengawasi. Setelah Rono menyampaikan salam, makhluk halus itu pun lenyap. Makhluk halus tersebut dipercaya sebagai penunggu gong Kyai Dhudho Bangsong.
Kyai Kanyut Mesem kalau ditabuh suaranya selalu ndudut ati (menyentuh hati) enak didengar. Saking nganyut-anyutnya (mengalun-alun) susah dilupakan pendengarnya. Pernah kejadian seorang turis mancanegara mendekati kempul dan mencoba memukulnya. Setelah itu dia tidak mau pindah-pindah. Bahkan kupingnya selalu ditempelkan pada bagian kenong yang menonjol, sembari geleng-geleng kepala serta gela-gelo. Mungkin karena amat tertarik.
Baru ketika didekati abdi dalem yang ngreksa, gandem ndudut ati manut ilining banyu atau menusuk kalbu. Boleh percaya atau tidak ikan-ikan di air yang mendengar bunyi gamelan tadi seakan-akan tidak punya 'daya' kekuatan, cuma gumlethak ngambang di air. Begitu gamelan berhenti ikan-ikan tersebut bergerak lincah seperti semula, seolah bangun dari hipnotis suara gamelan Kyai Mardiswara.
sumber : jawa pos
|